Thursday, November 17, 2016

#4

Ternyata aku masih saja pelupa
Aku lupa menghitung hari-hari kita
Karena jari-jariku pun tlah habis menghitung bahagia kita
Semoga ini jadi pengingat agar kita tak pernah lupa untuk berbahagia

-15 November 2016

Monday, November 14, 2016

25

Hi, have you hugged yourself today?

Said something nice to yourself?

Be Grateful for everything that happens and perhaps could be happen..

For everybody that really into you, care and love you just the way you are.. no matter how hard you try to let them down and convince them that you are not that worth for taking place of their heart..

For just maybe a chance to open your eyes and see the same view of your home.. to smell the same scent of your favorite meals.. to hear the routine noise made by your brother.. to touch the air and breath it in..

I am being grateful..

Even for every tears that dried on my cheek,
every desperate prayer in the late of the night,
every sad song i sang in my gloomy day,
every sorrow i've been through has strengthen me..

And here i am, in my quarter of century..
Being grateful to also have my weaknesses in order to be guarded by His Almighty Power
Being Grateful for everything... I do realize, what really matters are lie inside not outside..

There's indeed sometimes when i regret my foolish actions toward those who i loved.. even my own family..
Thanks for not giving up on me.. Thanks for giving me the chance to know each of you :)
Just hope, this time i'll learn from my mistakes and being a better person..

For you, who had been also being hurt or betrayed by me.. just know that i'll never wish something terrible happen to you, i'll keep wishing the best for you.. that you may also find your own peace and let go of past.. That maybe someday we'll meet again like an old friend that yearning to share all of those magical stories..

At the end.. i just wanna say thank you.. and sorry.. for every eternal tiny time that have been given to me and yet i still fixing my bugs in this life..

To infinity and beyond.. don't give up trying.. :)

- Lil notes for myself, gentle reminder to be rejoice always.. (and maybe for you too)

Tuesday, November 1, 2016

Halo hati..

Halo hati,

Tak terasa sudah seminggu berlalu (oke, aku bohong, ini adalah seminggu terlama dalam satu tahun terakhir).

How’s life? Kamu baik?

Karna aku tidak. Aku tidak baik-baik saja. Senyum di wajahku kemarin? Ah, aku mulai suka bermain sandiwara. Menipu dunia ternyata menyenangkan juga.

Bagaimana dengan escape plan yang kamu rencanakan? Punyaku tidak berjalan dengan baik. Membanting tulang untuk bekerja somehow tidak menyenangkan. Aku tetap membayangkan akhir minggu tenang diselingi hujan, agar bisa bersembunyi di balik selimut dengan nyaman.

Ya, sifat malasku semakin menjadi jadi. Jika ibu hamil sering menyalahkan bayi di dalam kandungannya ketika ini terjadi, bawaan orok, kata mereka. Mungkin aku akan menyalahkan dirimu, bawaan hati. Adil bukan? Siapa lagi yang lebih tepat dikambinghitamkan untuk semua ini?

Halo hati,

Kamu masih di sana? Aku rindu bercerita. Bercerita tentang apa saja seperti hari hari biasanya sebelum kau minta aku untuk berhenti.

Katamu aku harus mencoba mengikhlaskan. Mungkin kamu belum tau kalau mengikhlaskan sesuatu itu adalah hal yang paling sulit untuk dipelajari. Bahkan dulu sempat dibuat filmnya di layar lebar. Kamu tidak tau? Yang jadi bintangnya dedi mizwar dan andre stinky.

Mereka sudah jadi politisi katamu? Ah ya benar juga. Tapi ini diluar konteks pembicaraan kita! Pengalihan isu? Kamu pun sudah ikut ikutan berpolitik ya sekarang denganku, manipulasi pikiran adalah salah satu alat politik, cih mentang mentang sudah dekat pemilu.

Halo hati,

Jadi kapan kira kira kamu akan sembuh? Bukan bukan, ini bukan desakan. Ya, aku memang terlahir sebagai anak yang tidak sabar. Tapi ini bukan desakan. Aku akan menunggu, menunggu dengan tidak sabar tentunya. Kamu tahu jelas aku tidak pernah suka menunggu.

Jangan lama-lama ya, aku lelah.

Predikat anak lemah itu masih melekat, menempel rapat. Sugesti “kamu anak kuat” dari sekitar tidak cukup meyakinkanku. Dan jangan bilang padaku ini hanya masalah waktu.

Aku tahu ini bukan masalah waktu. Ini masalah kemauanmu untuk melangkah pergi. Berjalan pelan tapi pasti. Bukan salah satu hobimu untuk berjalan, ya, aku mengerti.

Tapi masalahnya, sudah terlalu banyak jalan pintas yang kamu ambil sedari dulu, lalu gagal. Mungkin ini saatnya untuk mengambil jalan memutar yang lebih panjang, untuk pulang.

Ya, aku ingin pulang.

Dan karna tak ada orang lain yang akan menanggung sakitmu selain aku, kali ini tolong, pulang dengan cara yang benar. Menyusun serpihan jadi satu kesatuan utuh kembali butuh effort yang oh-sungguh-berarti.

For once, be good, dan lekas sembuh.



Salam sayang,


(teristimewa untuk para penyintas dari peperangan hati, semoga lukamu segera sembuh, bahkan jangan biarkan cacat tetap menjadi penghalang bagimu tuk bersyukur atas kehidupan)
*special thanks to Rizki Pernando 'Ochol" :')


Monday, October 31, 2016

Sayonara

"Tingkat kebaperannya melebihi orang yg habis diputusin pacar..", kata Ical salah satu sahabat karibmu itu.

Tapi aku pun mengiyakan perkataan tersebut.. Tak bisa dipungkiri kamu pun sudah berkontribusi memenuhi memoriku dengan kenangan dan angan

Walau aku tahu hari ini akan tiba, bahwa akhirnya pertemuan akan merindukan perpisahan, tapi tetap saja rasanya tidak siap.
Tapi kita tidak akan pernah merasa siap sampai kita dihadapkan dengan pilihan satu-satunya untuk bersiap bukan?

Hari ini, aku tidak tahu bagaimana harus memberi nama untuk setiap rasa yang kurasakan..

Kaget, pastinya, karena hari ini tiba seperti pencuri yang tidak memberikan pngumuman saat ingin merampok

Sedih, karena aku akan kehilangan rekan kerja yg luar biasa, tapi semoga hanya peran sbg rekan kerja yg hilang, bukan sbg seorang kawan yg pergi

Bangga, karena kau akhirnya menemukan angkasa untuk mlebarkan sayapmu, walau aku tak tahu pasti apakah angkasamu masih berwarna biru seperti milikku.. kau selalu tertutup soal teritori barumu itu, aku hanya berharap disana kau dapat terbang lebih tinggi daripada disini

Senang, karena aku masih menjadi sosok yg kau ingat untuk berbagi secuil informasi perihal hari ini

Hampa, sekaligus penuh..

Tawar, sekaligus manis..

Bingung, sekaligus paham..

Mungkin kau kira aku sudah mematikan radar Neptunusku, mengunci rapat setiap kepingan akan kita, tapi kau perlu tahu bahwa aku masih peduli, aku tidak lupa, tidak akan bisa..

Maaf kalau aku puitis seperti ini, kau pasti juga tahu aku selalu melow seperti ini..

Hari ini hari kelulusanmu, kelulusan aku juga.. kelulusan kita..
Maafkan jika masih ada hal-hal yg membuatmu luka, smoga kelak masih ada kedua kursi dan meja bagi kita dihatimu untuk sekedar berbincang hangat, menertawakan masa lalu, bertukar semangat menghadapi esok, berbagi cerita tentang cinta (undang2 yee kalo nikahh!), dan bahkan mungkin menikmati Tuhan.

Godspeed for you.. you know i always pray for the best for you.. aku bersyukur mengenalmu, kawan :)..

Saturday, October 15, 2016

#3

Tahukah kau kalau langit tak hanya biru?
Ada awan putih juga yang menghiasinya
Sama seperti awan yg menghadirkan hujan, menolongnya meluruhkan tiap bulir-bulir kesedihan
Tak ada hujan tanpa awan, pun tak ada 'kita' tanpa 'kamu'

-15 Oktober 2015

Thursday, September 15, 2016

Berani bersikap Idealis ?

Apa yang menjadi impian terbesarmu? Kehidupan seperti apa yang kamu idam-idamkan untuk terjadi?

Sebagai seorang yang kerap diberi label “terlalu idealis” oleh sebagian rekan-rekanku, aku memiliki dunia impianku sendiri. Dibesarkan dalam keluarga Tionghoa yang masih memegang tradisi cukup kuat, membuatku berpikir bahwa kesuksesan dapat diukur dari seberapa banyak uang yang telah kuhasilkan, pendidikan dan karir yang baik, keluarga yang harmonis, dan hal-hal Indah lainnya. Itulah menurutku kehidupan yang ideal bagiku. Bahkan terkadang idealismeku sendiri yang membuatku justru menjalani hidup lebih berat dari yang seharusnya.

Berbicara tentang idealisme membuatku teringat sebagian lirik dari lagu “Imagine” dari John Lennon:
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion, too
Imagine all the people
Living life in peace... You...

Rasanya memang lebih mudah mengimajinasikannya dibanding menghidupi pandangan idealis tersebut. Mungkin bagi seorang John Lennon, itulah dunia yang diimpikannya, idealisme yang diusungnya.

Jika idealisme hanya memberatkan hidup, apakah sebenarnya kita perlu menjadi orang yang idealis? Bagaimana pandangan kekristenan terhadap hal tersebut?

Dalam perenunganku akan hal ini, aku menemukan beberapa hal yang membantuku melihat idealisme dari sudut pandang yang berbeda, bukan sekedar hal yang memberatkan namun penting tapi lebih dari itu.

Dalam ‘idealisme’ terkandung kata ‘idea’, pada dasarnya idealisme itu sendiri adalah sebuah ide. Ide mengenai sebuah perubahan, terlepas dari baik buruknya perubahan tersebut. Perubahan itu sendiri bisa terjadi karena ketidakpuasan terhadap situasi kondisi yang sedang berlangsung, ada ‘kesalahan’ di dalamnya yang perlu diperbaiki. Namun perlu diingat bahwa idealisme juga membutuhkan realisme sebagai tim kerja. Kesalahan umum yang sering dilakukan –khususnya olehku- adalah kita hanya mengembangkan sikap idealis yang mengakibatkan angan-angan kita melambung terlalu tinggi, melupakan bahwa angan kita pun membutuhkan tempat berpijak untuk dapat direalisasikan.

Itulah mengapa diperlukan sikap realistik, untuk menolong kita memahami kondisi riil di lapangan. Sementara sikap idealis diperlukan untuk mengidentifikasi masalah atau kekurangan yang ada serta untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.

Jadi pada prakteknya, sikap idealis dan realistis tidak saling berkontradiktif tetapi keduanya harus berjalan selaras agar hasilnya nanti tidak berat sebelah dan tepat sasaran. Idealisme memerlukan keberanian untuk dapat diwujudnyatakan. Tetapi terkadang kita sulit membedakan mana yang memang keberanian dan mana yang hanya kesombongan belaka untuk mempertahankan gengsi.

Lantas keberanian apa saja yang diperlukan untuk mempraktekan idealisme dengan benar?

1.       Berani berserah
Bagi aku sendiri, berani yang dimaksud disini salah satunya adalah berani berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Kita berani melakukan perubahan karena kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah benar dan berkenan kepada Tuhan. Bahwa Tuhan sendirilah yang akan menjadi hakim dan pembela bagi kita nantinya. Oleh karena itu, kita pun perlu mengecek apakah pandangan idealisme kita sudah selaras dan sejalan dengan Firman Tuhan. Berdoa meminta hikmat pada Tuhan agar kita dapat peka mengidentifikasi hal tersebut adalah suatu hal yang mutlak untuk dilakukan. Sebab sia-sialah apa yang kita pertahankan untuk dilakukan jika hal tersebut menentang kehendak Tuhan. Percuma kita memaksa berjalan jika ujungnya hanya salah arah. Seperti yang tertuang dalam Amsal 16:9, Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. 

2.       Berani bertanya
Don’t assume, just ask.”
Baru-baru ini aku mendapatkan slogan tersebut saat mengikuti pelatihan soft-skill dari kantorku. Sebelumnya, para peserta diminta untuk mengikuti tes sederhana untuk menilai apakah kita lebih sering menyimpulkan dengan berasumsi ketimbang mencerna informasi yang diterima sebelum menarik kesimpulan tentang suatu hal. Dan alangkah terkejutnya aku mendapati bahwa ternyata aku adalah orang yang asumtif. Kejadian ini mengingatkan aku untuk lebih belajar menggali informasi lebih dalam, bertanya sebelum menyimpulkan sesuatu. Benteng idealismeku kerap kali membuat aku berasumsi terhadap orang lain, bahwa pemikiran mereka tidak se-ideal milikku. Aku lupa menempatkan posisi di posisi mereka, melihat dari sudut pandang mereka. Idealisme seharusnya dapat bersifat dinamis dan global agar perubahan yang akan dilakukan bersifat menyeluruh dan membangun seluruh aspek yang dibutuhkan bukan hanya terfokus dengan diri sendiri.

3.       Berani Menerima untuk merelakan
Sebelum kita dapat melemparkan bola basket ke ring, kita harus terlebih dulu menerima operannya, menangkap bola tersebut. Demikian juga saat idealisme kita harus runtuh atau orang lain tidak bisa mengikuti idealism kita. Saat idealisme kita tidak dapat kita pertahankan, ingat kembali poin pertama tadi, berani berserah. Berserah berarti kita mempercayai Allah sepenuhnya, kita benar-benar meyakini bahwa rancangan Allah melebihi rancangan kita, seperti tertulis dalam Yesaya 55:8-9, Sebab rancangan-Ku  bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Kita perlu berani menerima kenyataan bahwa idealisme kita terkadang mungkin tidak sesuai dengan rencana Tuhan atas kita dan merelakan idealisme Tuhan yang menggantikan idealisme kita. Dengan jalan ini kita tidak akan menyiksa diri untuk terus bertahan menjalankan pandangan idealisme kita yang salah di mata Tuhan.


Pada akhirnya, mari kita para generasi muda berani untuk bersikap idealis namun tetap berpadanan dengan Firman Tuhan dan berani untuk mengimplementasikannya dalam realita kehidupan kita sehari-hari. Agar idealisme kerajaan Allah pun dapat kita beritakan di tengah-tengah dunia yang skeptis ini. Dan tetap ingat bahwa yang dapat kita lakukan adalah menginspirasi dan mempengaruhi orang lain untuk setuju dengan pandangan idealisme kita, bukan memaksa mereka untuk mengikutinya. Perubahan dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita sudah melakukan yang terbaik namun mereka tetap menolak kita, jangan jadikan hal tersebut hambatan bagi kita untuk tetap mengembangkan diri, kita hanya bisa mengontrol diri kita sendiri dan orang lain pun memiliki kehendak bebasnya masing-masing untuk memilih pilihan mereka.

#2

Kini kumengerti arti berhenti
Berhenti saat menemukan hatiku dalam hatimu
Bukan lagi perhentian yang perih, yang menggelisahkan hati
Tapi perhentian yang hangat, sehangat rumah
Lengang lenganmu tempatku pulang..

-15 September 2016